Widgetized Section

Go to Admin » Appearance » Widgets » and move Gabfire Widget: Social into that MastheadOverlay zone

“El Classico” di Pemilukada Luwu

basmincakka copy
lukman1Penulis : Lukman Hamarong

Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Luwu tinggal sebulan lebih. Tiga pasangan calon dipastikan ikut bertarung dalam pesta politik tersebut, masing-masing Andi Mudzakkar – Amru Saher, Basmin Mattayang – Syukur Bijak dan Basri Suli – Thomas Toba. Tanpa mengecilkan peluang pasangan yang saya sebut terakhir, pertarungan Andi Mudzakkar versus Basmin Mattayang layak mendapat perhatian lebih. Maklum, kedua tokoh familiar di Tana Luwu ini adalah rival sejati di dunia politik Tana Luwu sejak awal 2000-an.
Rivalitas Cakka (panggilan beken Andi Mudzakkar) dan Basmin diawali pada tahun 2004 silam. Di mana keduanya bertarung memperebutkan posisi Bupati Luwu yang kala itu masih dipilih para wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Basmin berhasil mengungguli rivalnya itu dan resmi menjadi Bupati Luwu periode 2004 – 2009. Dalam masa kepemimpinannya, sejumlah karya yang masuk dalam kategori sukses berhasil ditorehkan Basmin. Di antaranya adalah pembangunan infrastruktur perkantoran yang tampak nyata terlihat. Keindahan kota Belopa sungguh mulai tampak bersinar. Itulah keberhasilan Basmin yang kasat mata, di samping tentunya masih banyak keberhasilan di sektor lain.

Selepas Basmin menjabat Bupati karena mengundurkan diri pada 2008 silam, Wakil Bupatinya kala itu, Bahrum Daido, naik kelas menjadi Bupati Luwu selama beberapa bulan, yang tugas utamanya adalah menggelar Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara langsung seiring berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, di mana masyarakat terlibat secara langsung dalam memilih pemimpinnya. Untuk pertama kalinya Kabupaten Luwu menggelar Pilkada secara langsung pada tahun 2008. Basmin mundur sebelum masa pemerintahannya kelar untuk maju pada Pilkada langsung tersebut.

Sudah bisa diduga, Andi Cakka juga kembali maju bertarung melawan rivalnya itu. Cakka yang diusung Partai Bulan Bintang (PBB) dan beberapa partai pengusung lainnya menggaet Syukur Bijak sebagai calon wakilnya. Meski sudah tidak menjabat lagi sebagai Bupati, Basmin masih layak disebut incumbent karena masih punya power di birokrasi. Basmin pun tidak terlalu sulit untuk mengendarai partai besar. Maklum Basmin adalah Ketua DPD Partai Golkar Luwu. Basmin sendiri merangkul Buhari Kahar Muzakkar yang tak lain adalah kakak kandung Cakka, sebagai 02-nya. Pilkada Luwu 2008 sendiri diikuti empat kontestan. Pada pesta demokrasi langsung yang pertama ini, Cakka berhasil membalas kekalahannya dan berhasil merebut kursi Bupati Luwu 2008 – 2013. Cakka menang dengan 83.058 suara, sementara Basmin 57.977 suara.

Andi Cakka dalam perjalanannya sebagai Bupati juga berhasil menorehkan beberapa catatan prestasi. Salah satu di antaranya yang kasat mata adalah di sektor pertanian. Cakka yang tak lain adalah putra tokoh kharismatik Sulsel, Abdul Qahhar Mudzakkar, berhasil meningkatkan kesejahteraan petani lewat beberapa bantuan dan program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat petani. Salah satunya adalah mengalirnya bantuan hand-tractor kepada kelompok tani di Luwu. Bahkan ada yang menyebut Cakka sebagai Bupati traktor. Di samping tentunya masih banyak prestasi Cakka di sektor lainnya.

Nah, di saat Pilkada dimasukkan ke dalam “rezim” Pemilihan Umum melalui Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Pemilihan Umum, Kabupaten Luwu kembali akan menggelar pesta demokrasi secara langsung untuk kedua kalinya pada September 2013 mendatang. Posisi kini berbalik. Cakka ada pada posisi incumbent dan berdiri gagah sebagai Ketua DPD Partai Golkar Luwu, sementara Basmin sebagai penantang, maju dengan mengendarai Partai Demokrat. Yang menarik dan membuat suasana menjadi lebih dinamis adalah pasangan Basmin yang ternyata adalah Wakil Bupati Luwu sekarang yang juga Ketua Partai Demokrat Luwu, Syukur Bijak. Putra terbaik Walmas ini ibarat bunga yang bisa memikat siapa saja. Sungguh menarik melihat fenomena di Pemilukada Luwu ini.

Melihat sepak terjang dua politisi papan atas di Tana Luwu ini, maka sungguh tepat jika hajatan politik lima tahunan bernama Pemilukada Luwu ini dilabeli “El Clasico.” Sekali lagi, tidak ada maksud penulis mengenyampingkan potensi Basri Suli (calon Bupati lainnya) dalam memenangkan Pemilukada Luwu. Semua calon punya potensi sama dalam Pemilukada ini. Namun, yang patut dicatat adalah nama Cakka dan Basmin sudah mengakar sejak awal 2000-an yang membuat keduanya menjadi komoditas terpanas untuk dibahas.
Kenapa El Clasico? Bagi pencinta sepak bola, kata El Clasico sudah tidak asing lagi. Dua pelaku El Clasico, Barcelona dan Real Madrid, selalu bertarung dalam tensi tinggi. Kita tidak usah membahas lagi bagaimana dahsyatnya pertarungan Barcelona kontra Madrid secara detil dan spesifik. Selain pertarungan mereka yang sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam, Barca dan Madrid adalah simbol rivalitas tertinggi di dunia sepak bola. Nah, penulis ingin menyeret-nyeret sedikit klaim tersebut ke dunia politik. Cakka dan Basmin adalah dua tokoh politik yang terlibat dalam rivalitas tingkat tinggi.

Namun, penulis berharap, tingginya rivalitas mereka tidak sampai mencederai nilai-nilai demokrasi. Semua calon diharapkan bisa bersaing secara sehat berdasarkan fatsun politik. Para kontestan tetap harus saling berangkulan menuju panggung sesungguhnya, sehingga para pendukung dan simpatisan di bawah juga saling berangkulan yang pada akhirnya tercipta suasana yang kondusif serta kondisi yang tertib, aman dan nyaman. Jangan lagi berulang tragedi Pemilukada Kota Palopo, di mana enam perkantoran habis dilalap si jago merah karena adanya aksi tidak puas menerima hasil akhir pemilukada.

Para kontestan dan tim sukses harus bisa memberikan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat. Jadikan hajatan ini sebagai sarana pendidikan politik sekaligus pendidikan moral yang baik kepada masyarakat. Calon pemimpin yang baik adalah dia yang berhasil menciptakan ketenangan dan kesejukan di tengah-tengah masyarakat. Coba kita tengok kembali sebuah pertandingan sepakbola. Mereka bertarung di dalam lapangan, namun setelah keluar lapangan mereka saling berangkulan dan saling menukar kaos, apapun hasil akhirnya. Salam Damai (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>